Tidak sulit untuk menyaksikannya. Setiap hari, hampir pada semua program berita stasiun televisi menanyangkannya. Tayangan dimaksud: salah satu proses pengumpulan informasi oleh jurnalis televisi. Reporter dan kamerawan mengerubuti narasumbernya. Kerap terlihat satu tim peliputan saling sikut untuk memperoleh informasi dan gambar terbaik.
Jibaku perburuan berita memang tugas dasar jurnalis --media cetak maupun elektronik. Masalahnya, adegan di atas hanya terlihat di tempat tertentu. Antara lain, di Gedung DPR, KPK, atau di kantor menteri.
Tahukah mengapa sekelompok tim peliputan berkumpul di tempat dan pada waktu yang sama? Narasumber yang dikejarpun sama. Pernyebabnya, agenda peliputan tersebut sudah terjadwal beberapa hari sebelumnya. Paling lambat beberapa jam sebelumnya. Sebagian besar di antaranya, informasi agenda kegiatan diinformasikan pihak narasumber ke media; melalui faksimili, e-mail, telepon atau pesan pendek.
Agenda paling sederhananya yakni konferensi pers (konpres). Kerap disebut jumpa pers (jumpers). Pada acara ini narasumber dan rombongan wartawan duduk manis. Saling berhadapan layaknya anak taman kanak-kanak dengan ibu guru.
Karena kronologi tersebut, tipe perburuan berita satu ini sebut saja, 'peliputan prasmanan'. Semua telah tersedia dan tim peliputan tinggal mencomot satu demi satu media yang tersedia. Lauk-pauknya lengkap. Tak lupa susu dan buah buat penutup. Bila jumpers dikelola konsultan media atau tim hubungan masyarakat (humas) yang oke, bahkan ramuan data yang disusun rapih disiapkan buat wakil media yang hadir. "Pokoknya teman-teman media terima beres, deh," begitu kira-kira isi kepala pembantu sang narasumber.
Penyebab lainnya, kita memang senang tradisi bergerombol!
Pertanyaan kini: akankah lahir 'berita' dari perburuan bergerombol? Akankah diperoleh liputan bermutu dari peliputan prasmanan? Owe yakin jawabannya: seribu persen 'tidak'.
Peliputan sesungguhnya kerja 'egois', bergerak sendiri, diam-diam. Egois karena dalam perencanaan tidak perlu ikut arus berita media tetangga. Biarkan tetangga memberitakan 'A', kami 'X'. Peliputan X dimaksud kami garap dalam dan tuntas, tidak setengah-setengah --tidak peduli semua media memberitakan A. Kami berjibaku untuk dapatkan 'gong', bukan suara gemerincing. Kami tidak berminat memberi pemirsa 'kulit', melainkan 'daging'.
Itulah karakter pemburu. Begitulah seharusnya jurnalis.
Gampang kali kau ngomong, Bung. ANTV, bagaimana?
Salah satu masalah mendasar divisi news ANTV --mungkin pula stasiun televisi tetangga: minimnya pemburu. Ini tentu bukan persoalan kecil karena tim peliputan (reporter dan kamerawan) tulang punggung organisasi redaksi pemberitaan. Dipimpin pemimpin redaksi ternama, produser eksekutif andal, dan produser kawakan, bukan jaminan newsroom sebuah stasiun televisi tampil dengan performa terbaik. Kecuali mereka ditopang sekawanan news hunter berkualitas.
Khusus di stasiun kesayanganku, ANTV, problem tersebut belum tersentuh. Entah pimpinan tak mendeteksinya atau malah menghindarinya. Mereka seolah berada di gerbong dan rel yang berbeda. Satu ke barat dan satunya ke timur.^
28.2.10
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment