Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM)-Independen, yang dimotori Aliansi Jurnalis Independen, pada 25 Juli mendatang, menggelar kongres pertama di Jakarta. Rekan pengurus AJI mengabarkan rencana hajat yang akan dilaksanakan di Gedung Yayasan TKI itu, via telepon kepada saya, sehari sebelum pencontrengan Pilpres 2009. Informasi tersebut mengingatkan saya kembali pada nasib serikat pekerja ANTV (SKAK-Serikat Pekerja ANTV untuk Kesejahteraan) dan sebagian di perusahaan media lain, yang "mati suri".
Pikiran saya lalu melayang ke mana-mana. Prihatin. Betapa tidak, peran jurnalis/media demikian berat. Namun nasib mereka sebagai pekerja setali tiga uang dengan kebanyakan buruh. Mereka tak berdaya di hadapan manajemen perusahaan. Maka, tak perlu berdebat panjang bila data mengenai gaji tak layak nyaris sebagian besar wartawan --cetak dan elektronik-- dibuka. Siapa yang membela jurnalis sebagai pekerja? Tidak ada. Penyebabnya? Mereka tak berserikat! Atau bila medianya memiliki serikat pekerja, organisasinya loyo.
Serikat pekerja media loyo! Ambil contoh SKAK. Sebagai pengurus, saya menilai SKAK sejauh ini masih sebagai organisasi papan nama. Ada tapi tidak ada. Secara organisasi SKAK boleh dikatakan vakum. Rancangan kesepakatan bersama yang diajukan kepada manajemen sejauh ini belum digubris. Dan, SKAK tak mampu berbuat apa-apa. Beruntung belum ada sengketa ketenagakerjaan skala berat yang terjadi.
Namun, bukankah serikat pekerja harus terus menggeliat meski belum terjadi perselisihan karyawan dengan manajemen perusahaan? Bukankah serikat karyawan juga perlu mencari solusi atas sistem karir yang tidak adil? Bukankah serikat pekerja juga perlu berperan untuk mengawal besaran gaji, dan lain-lain. Bukankah SKAK wajib bekerja bersama manajemen agar kesejahteraan karyawan maksimal, sesuai namanya "untuk kesejahteraan"? Tapi, mengapa karyawan --termasuk jurnalis di dalamnya-- masih banyak yang belum memiliki rumah sendiri, misalnya?
Atas kondisi dimaksud, saya teringat perselisihan manajemen PT Cakrawala Andalas Televisi yang menaungi ANTV dengan dua karyawannya beberapa tahun lalu. Ketua SKAK Tian Bachtiar dan Koordinator jurukamera Antariksa Puspanegara ternyata divonis kalah oleh pengadilan, atas gugatan pencemaran nama baik oleh manajemen. Keduanya dihukum membayar ganti rugi Rp 250 juta kepada ANTV. Saya hendak bertanya. Jurnalis mana yang memiliki tabungan sebesar itu, meski sudah bekerja 10 tahun, seperti Tian?
Sekadar mengingatkan, Tian dan Antariksa dibawa ke pengadilan karena melaporkan dugaan penyelewengan dana karyawan di Jamsostek kepada polisi.Kasus berawal saat beberapa karyawan ANTV tidak dapat menarik dana Jamsostek karena sejak 1999-2003 manajemen tidak menyetorkan. Padahal setiap bulan gaji karyawan dipotong untuk Jamsostek. Belakangan ANTV membayar dana tunggakan sebesar Rp 2,4 miliar.Dalam laporan Jamsostek, tercatat pembayaran ANTV itu untuk 2000, 2002, dan 2003. Pembayaran dilakukan pada 18 Februari 2005, saat kasus ini mencuat.
Nah, adakah sebagian pengurus SKAK trauma atas kasus kedua rekannya yang kini tak berkantor di gedung Sentra Mulia, markas ANTV, lagi? Menurut saya, boleh jadi begitu. Di banyak perusahaan memang pengurus serikat pekerja kerap diperkarakan manajemen. Dan, nyaris semua pekerja menderita kalah saat di pengadilan. Mengapa? Salah satu faktor penyebabnya serikat pekerja tak cukup mumpuni.
Nah, bagaimana para jurnalis berjuang membela hak-hak pekerja yang tertindas di luar sana? Sejauh ini para wartawan teta[p memberi perhatian besar pada masalah buruh. Masalah internal jurnalis tidak berpengaruh. Tanggungjawab wartawan melawan penindasan terhadap buruh tetap ditunaikan. Menjadi miris karena ternyata jurnalis sebagai buruh tidak bertaji di kandang sendiri. Lupa --tepatnya tak kuasa-- memperjuangkan hak sendiri.*(Read1)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment